Kamis, 19 April 2012

Kisah saridin

Mengungkap Sosok Saridin
Syeh Jangkung ketika Kecil Sangat Nakal
SIAPA sebenarnya Saridin itu? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, warga Pati dan sekitarnya
mungkin bisa membaca buku Babad Tanah Jawa
yang hidup sekitar awal abad ke-16. Sebab,
menurut cerita tutur tinular yang hingga
sekarang masih diyakini kebenarannya oleh
masyarakat setempat, dia disebut-sebut putra
salah seorang Wali Sanga, yaitu Sunan Muria dari
istri bernama Dewi Samaran.
Siapa wanita itu dan mengapa seorang bayi laki-
laki bernama Saridin harus dilarung ke kali?
Konon cerita tutur tinular itulah yang akhirnya
menjadi pakem dan diangkat dalam cerita
terpopuler grup ketoprak di Pati, Sri Kencono.
Cerita babad itu menyebutkan, bayi tersebut
memang bukan darah daging Sang Sunan
dengan istrinya, Dewi Samaran.
Terlepas sejauh mana kebenaran cerita itu,
dalam waktu perjalanan cukup panjang muncul
tokoh Branjung di Desa Miyono yang
menyelamatkan dan merawat bayi Saridin hingga
beranjak dewasa dan mengakuinya sebagai
saudaranya. Cerita pun merebak. Ketika masa
mudanya, Saridin memang suka hidup mblayang
(berpetualang) sampai bertemu dengan Syeh
Malaya yang dia akui sebagai guru sejati.
Syeh Malaya itu tak lain adalah Sunan Kalijaga.
Kembali ke Miyono, Saridin disebutkan telah
menikah dengan seorang wanita yang hingga
sekarang masyarakat lebih mengenal sebutan
”Mbokne (ibunya) Momok” dan dari hasil
perkawinan tersebut lahir seorang anak laki-laki
yang diberi nama Momok.
Sampai pada suatu ketika antara Saridin dan
Branjung harus bagi waris atas satu-satunya
pohon durian yang tumbuh dan sedang berbuah
lebat. Bagi waris tersebut menghasilkan
kesepakatan, Saridin berhak mendapatkan buah
durian yang jatuh pada malam hari, dan Branjung
dapat buah durian yang jatuh pada siang hari.
Kiasan
Semua itu jika dicermati hanyalah sebuah kiasan
karena cerita tutur tinular itu pun melebar pada
satu muara tentang ketidakjujuran Branjung
terhadap ibunya Momok. Sebab, pada suatu
malam Saridin memergoki sosok bayangan
seekor macan sedang makan durian yang jatuh.
Dengan sigap, sosok bayangan itu berhasil
dilumpuhkan menggunakan tombak. Akan tetapi,
setelah tubuh binatang buas itu tergolek dalam
keadaan tak bernyawa, berubah wujud menjadi
sosok tubuh seseorang yang tak lain adalah
Branjung.
Untuk menghindari cerita tutur tinular agar tidak
vulgar, yang disebut pohon durian satu batang
atau duren sauwit yang menjadi nama salah satu
desa di Kecamatan Kayen, Durensawit,
sebenarnya adalah ibunya Momok, tetapi oleh
Branjung justru dijahili.
Terbunuhnya Branjung membuat Saridin
berurusan dengan penguasa Kadipaten Pati.
Adipati Pati waktu itu adalah Wasis Joyo Kusumo
yang harus memberlakukan penegakan hukum
dengan keputusan menghukum Saridin karena
dinyatakan terbukti bersalah telah membunuh
Branjung.
Meskipun dalam pembelaan Saridin berulang kali
menegaskan, yang dibunuh bukan seorang
manusia tetapi seekor macan, fakta yang
terungkap membuktikan bahwa yang meninggal
adalah Branjung akibat ditombak Saridin.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,
dia harus menjalani hukuman yang telah
diputuskan oleh penguasa Pati.
Pulang
Sebagai murid Sunan Kalijaga yang tentu
mempunyai kelebihan dan didorong rasa tak
bersalah, kepada penguasa Pati dia menyatakan
telah punya istri dan anak. Karena itu, dia ingin
pulang untuk menengok mereka.
Ulahnya Menjengkelkan Sunan Kalijaga
ONTRAN - ontran Saridin di perguruan Kudus tidak
hanya menjengkelkan para santri yang merasa
diri senior, tetapi juga merepotkan Sunan Kudus.
Sebagai murid baru dalam bidang agama, orang
Miyono itu lebih pintar ketimbang para santri lain.
Belum lagi soal kemampuan dalam ilmu
kasepuhan. Hal itu membuat dia harus
menghadapi persoalan tersendiri di perguruan
tersebut. Dan itulah dia tunjukkan ketika beradu
argumentasi dengan sang guru soal air dan ikan.
Untuk menguji kewaskitaan Saridin, Sunan Kudus
bertanya, “Apakah setiap air pasti ada ikannya?”
Saridin dengan ringan menjawab, “Ada, Kanjeng
Sunan.”
Mendengar jawaban itu, sang guru memerintah
seorang murid memetik buah kelapa dari pohon
di halaman. Buah kelapa itu dipecah. Ternyata
kebenaran jawaban Saridin terbukti. Dalam buah
kelapa itu memang ada sejumlah ikan. Karena
itulah Sunan Kudus atau Djafar Sodiq sebagai
guru tersenyum simpul.
Akan tetapi murid lain menganggap Saridin
lancang dan pamer kepintaran. Karena itu lain
hari, ketika bertugas mengisi bak mandi dan
tempat wudu, para santri mengerjai dia. Para
santri mempergunakan semua ember untuk
mengambil air.
Saridin tidak enak hati. Karena ketika para santri
yang mendapat giliran mengisi bak air, termasuk
dia, sibuk bertugas, dia menganggur karena tak
kebagian ember. Dia meminjam ember kepada
seorang santri.
Namun apa jawab santri itu? ”Kalau mau bekerja,
itu kan ada keranjang.” Dasar Saridin. Keranjang
itu dia ambil untuk mengangkut air. Dalam waktu
sekejap bak mandi dan tempat wudu itu penuh
air. Santri lain pun hanya bengong.
Dalam WC
Cerita soal kejadian itu dalam sekejap sudah
diterima Sunan Kudus. Demi menjaga kewibawaan
dan keberlangsungan belajar para santri, sang
guru menganggap dia salah. Dia pun
sepantasnya dihukum.
Sunan Kudus pun meminta Saridin meninggalkan
perguruan Kudus dan tak boleh lagi
menginjakkan kaki di bumi Kudus. Vonis itu
membuat Saridin kembali berulah. Dia unjuk
kebolehan.
Tak tanggung-tanggung, dia masuk ke lubang WC
dan berdiam diri di atas tumpukan ninja. Pagi-pagi
ketika ada seorang wanita di lingkungan
perguruan buang hajat, Saridin berulah. Dia
memainkan bunga kantil, yang dia bawa masuk ke
lubang WC, ke bagian paling pribadi wanita itu.
Karena terkejut, perempuan itu menjerit. Jeritan
itu hingga menggegerkan perguruan. Setelah
sumber permasalahan dicari, ternyata itu ulah
Saridin. Begitu keluar dari lubang WC, dia
dikeroyok para santri yang tak menyukainya. Dia
berupaya menyelamatkan diri. Namun para santri
menguber ke mana pun dia bersembunyi.
Lagi-lagi dia menjadi buronan. Selagi berkeluh
kesah, menyesali diri, dia bertemu kembali
dengan sang guru sejati, Syekh Malaya.
Sang guru menyatakan Saridin terlalu jumawa
dan pamer kelebihan. Untuk menebus kesalahan
dan membersihkan diri dari sifat itu, dia harus
bertapa mengambang atau mengapung) di Laut
Jawa.
Padahal, dia tak bisa berenang. Syekh Malaya pun
berlaku bijak. Dua buah kelapa dia ikat sebagai
alat bantu untuk menopang tubuh Saridin agar
tak tenggelam.
Dalam cerita tutur-tinular disebutkan, setelah
berhari-hari bertapa di laut dan hanyut terbawa
ombak akhirnya dia terdampar di Palembang.
Cerita tidak berhenti di situ. Karena, dalam
petualangan berikutnya, Saridin disebut-sebut
sampai ke Timur Tengah.
Lulang Kebo Landoh Tak Tembus Senjata
ATAS jasanya menumpas agul-agul siluman Alas
Roban, Saridin mendapat hadiah dari penguasa
Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting
kakak perempuannya, Retno Jinoli.
Akan tetapi, wanita itu menyandang derita
sebagai bahu lawean. Maksudnya, lelaki yang
menjadikannya sebagai istri setelah
berhubungan badan pasti meninggal.
Dia harus berhadapan dengan siluman ular Alas
Roban yang merasuk ke dalam diri Retno Jinoli.
Wanita trah Keraton Mataram itu resmi menjadi
istri sah Saridin dan diboyong ke Miyono
berkumpul dengan ibunya, Momok.
Saridin membuka perguruan di Miyono yang
dalam waktu relatif singkat tersebar luas sampai
di Kudus dan sekitarnya. Kendati demikian, Saridin
bersama anak lelakinya, Momok, beserta murid-
muridnya, tetap bercocok tanam.
Sebagai tenaga bantu untuk membajak sawah,
Momok minta dibelikan seekor kerbau milik
seorang warga Dukuh Landoh. Meski kerbau itu
boleh dibilang tidak lagi muda umurnya,
tenaganya sangat diperlukan sehingga hampir
tak pernah berhenti dipekerjakan di sawah.
Mungkin karena terlalu diforsir tenaganya, suatu
hari kerbau itu jatuh tersungkur dan orang-
orang yang melihatnya menganggap hewan
piaraan itu sudah mati. Namun saat dirawat
Saridin, kerbau itu bugar kembali seperti sedia
kala.
Membagi
Dalam peristiwa tersebut, masalah bangkit dan
tegarnya kembali kerbau Landoh yang sudah mati
itu konon karena Saridin telah memberikan
sebagian umurnya kepada binatang tersebut.
Dengan demikian, bila suatu saat Saridin yang
bergelar Syeh Jangkung meninggal, kerbau itu
juga mati.
Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap
kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh
Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa,
kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh,
meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam
digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak
mempan.
Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian
aneh itu membuat Momok memberikan senjata
peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher
kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya
diberikan kepada para pelayat.
Kebiasan membagi-bagi daging kerbau kepada
para pelayat untuk daerah Pati selatan, termasuk
Kayen, dan sekitarnya hingga 1970 memang masih
terjadi. Lama-kelamaan kebiasaan keluarga
orang yang meninggal dengan menyembelih
kerbau hilang.
Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar