Senin, 23 April 2012

KAYA UNTUK MENINGKATKAN IBADAH, OK. JANGAN MATRE


Masyarakat yg matre sifatnya ngoyo menjadi kaya
setiap kali melihat ada orang berlimpah harta
lewat di tengah kehidupan mereka. Dipikirannya
ngejadiin dunia sebagai tujuan, dikepalanya
cuma ada dunia, dunia, dunia tanpa meratiin
cara2 yang digariskan oleh Islam untuk
mndapatkannya secara halal serta berzakat,
sedekah. Berbeda kalo yg materialisme ( matre )
biasanya bakalan kikir, pelit alias medit. Keadaan
mereka yang matre seperti dikisahkan pegimana
masyarakat Mesir di zaman hidupnya seorang
tokoh kaya-raya bernama Qarun digambarkan di
dalam Al-Qur’an.
ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ َﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ َﻥﻭُﺪﻳِﺮُﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻝﺎَﻗ ِﻪِﺘَﻨﻳِﺯ ﻲِﻓ ِﻪِﻣْﻮَﻗ ﻰَﻠَﻋ َﺝَﺮَﺨَﻓ
ٍﻢﻴِﻈَﻋ ٍّﻆَﺣ ﻭُﺬَﻟ ُﻪَّﻧِﺇ ُﻥﻭُﺭﺎَﻗ َﻲِﺗﻭُﺃ ﺎَﻣ َﻞْﺜِﻣ ﺎَﻨَﻟ َﺖْﻴَﻟ ﺎَﻳ
”Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam
kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang
menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga
kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia
benar-benar mempunyai keberuntungan yang
besar”.(QS Al-Qashshash ayat 79)
Zaman kita dewasa inipun keadaannya sangat
mirip dengan zaman Qarun tersebut. Berbagai
kemewahan tokoh kaya, selebritis, artis,
olahragawan dan pejabat dipertontonkan di
televisi dan media lainnya sehingga masyarakat
berdecak kagum dan tentunya menjadi iri dan
berambisi ingin menjadi hartawan seperti mereka
pula. Sedemikian kuatnya ambisi tersebut
terkadang muncullah berbagai kasus
mengerikan di tengah masyarakat. Sebut saja
munculnya perdagangan bayi, penjualan organ
tubuh, pelacuran, korupsi, pencurian,
perampokan dan pengkhianatan para pejuang
yang semestinya berada di jalan Allah. Semua
dilakukan karena terbuai dengan mimpi ingin
secara instan menjadi seorang yang kaya.
Bardasarkan hal ini pantaslah bilamana teladan
kita Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa
sallam mengajarkan kita suatu prinsip penting
dalam hal menghindari berkembangnya
kemungkinan faham materialisme di tengah
masyarakat. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam
justeru mengajarkan ummat Islam agar
senantiasa rajin memandang kepada kalangan
yang kurang beruntung secara materi daripada
diri kita sendiri. Hal ini diharapkan akan
menumbuhkan rasa syukur dan ridha atas
pemberian Allah.
ْﻦَﻣ ﻰَﻟِﺇ ﺍﻭُﺮُﻈْﻨَﺗ ﺎَﻟَﻭ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َﻞَﻔْﺳَﺃ ْﻦَﻣ ﻰَﻟِﺇ ﺍﻭُﺮُﻈْﻧﺍ
ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺔَﻤْﻌِﻧ ﺍﻭُﺭَﺩْﺰَﺗ ﺎَﻟ ْﻥَﺃ ُﺭَﺪْﺟَﺃ َﻮُﻬَﻓ ْﻢُﻜَﻗْﻮَﻓ َﻮُﻫ
“Pandanglah orang yang lebih rendah daripada
kalian, dan janganlah memandang orang yang di
atas kalian. Maka yang demikian itu lebih layak
untuk dilakukan agar kalian tidak menganggap
remeh akan nikmat Allah yang telah
dianugerahkan kepada kalian.” (HR Muslim)
Betapa dalamnya pesan Nabi shollallahu ’alaih wa
sallam di atas. Andaikan setiap kita berpegang
teguh kepada prinsip di atas niscaya masyarakat
akan terhindar dari ideologi materialisme. Tidak
mungkin akan muncul suatu anggapan bahwa
harta merupakan tolok ukur kemuliaan
seseorang. Setiap orang akan senantiasa rajin
mensyukuri segenap karunia Allah yang telah
diterimanya. Islam mengajarkan bahwa tolok ukur
kemuliaan sejati ialah taqwa seseorang kepada
Allah.
ْﻢُﻛﺎَﻘْﺗَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺪْﻨِﻋ ْﻢُﻜَﻣَﺮْﻛَﺃ َّﻥِﺇ
”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
di antara kamu”. (QS Al-Hujurat ayat 13)
Allah tidak pernah berfirman: ”Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling berharta di antara
kamu”. Tidak…! Allah jelas tegas menyatakan
bahwa taqwa merupakan tolok ukur
sesungguhnya mulia-hinanya seseorang di mata
Allah. Semakin bertaqwa seseorang berarti
semakin mulia dirinya di sisi Allah. Dan sebaliknya
semakin tidak bertaqwa seseorang berarti
semakin hinalah dirinya di mata Allah Yang Maha
Mulia. Dan perkara ini tidak berkaitan dengan
banyak-sedikitnya harta yang dimiliki orang
tersebut. Bisa jadi seseorang berharta sedikit
atau banyak, asalkan ketqwaannya kepada Allah
memang tinggi, berarti mulialah dirinya di sisi
Allah. Sebaliknya, berapapun kekayaan atau
kemisikinan seseorang, bilamana ketaqwaannya
kepada Allah sangat tipis, apalagi tidak ada
samasekali, berarti orang tersebut hina di dalam
pandangan Allah. Taqwa merupakan timbangan
sejati bernilai atau tidaknya seseorang dalam
pandangan Allah yang Maha Tahu dan Maha Teliti
PengetahuanNya
Maka hadits riwayat Imam Muslim di atas sudah
semestinya menjadi pegangan seorang beriman.
Hendaklah bila sudah menyangkut urusan harta
dan kekayaan seorang muslim janganlah
memandang silau kepada orang yang berada di
atas dirinya. Tapi sepatutnya ia bersibuk
memandang mereka yang lebih rendah daripada
dirinya sehingga rasa syukur dan ridha akan
pemberian Allah senantiasa terpelihara di dalam
dirinya. Bila ia sibuk memandang kepada mereka
yang lebih kaya daripada dirinya, niscaya yang
muncul adalah keluhan dan ketidakpuasan akan
pemberian Allah kepada dirinya. Maka di zaman
Qarun hidup ada sebagian masyarakat Mesir
yang tetap bersikap benar dalam memandang
Qarun. Mereka inilah yang disebut Allah di dalam
Al-Qur’an sebagai orang-orang yang berilmu dan
mereka sangat faham akan hakekat kemuliaan
dan kehinaan di dalam kehidupan fana ini.
ٌﺮْﻴَﺧ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺏﺍَﻮَﺛ ْﻢُﻜَﻠْﻳَﻭ َﻢْﻠِﻌْﻟﺍ ﺍﻮُﺗﻭُﺃ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻝﺎَﻗَﻭ
َﻥﻭُﺮِﺑﺎَّﺼﻟﺍ ﻻِﺇ ﺎَﻫﺎَّﻘَﻠُﻳ ﻻَﻭ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ َﻞِﻤَﻋَﻭ َﻦَﻣﺁ ْﻦَﻤِﻟ
“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:
“Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah
adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman
dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu
kecuali oleh orang-orang yang sabar”.(QS Al-
Qashshash ayat 80)
Orang-orang yang berilmu sangat sadar bahwa
pahala dari Allah karena iman dan amal sholeh
seseorang, jauh lebih utama dan berharga
daripada sekedar harta dan kekayaan duniawi
seperti yang dikumpulkan oleh seorang Qarun.
Itulah sebabnya tatkala pada akhirnya Allah
mencabut hak kekayaan Qarun dengan
mendatangkan bencana yang menghancurkan
segenap kekayaan dan diri Qarun, barulah kaum
awam yang jahil alias bodoh atau sempit wawasan
itu memahami dan menyadari betapa bodohnya
diri mereka karena tergiur menginginkan seperti
yang dimiliki oleh Qarun.
ُﻪَﻧﻭُﺮُﺼْﻨَﻳ ٍﺔَﺌِﻓ ْﻦِﻣ ُﻪَﻟ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻤَﻓ َﺽْﺭﻷﺍ ِﻩِﺭﺍَﺪِﺑَﻭ ِﻪِﺑ ﺎَﻨْﻔَﺴَﺨَﻓ
َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﺢَﺒْﺻَﺃَﻭ َﻦﻳِﺮِﺼَﺘْﻨُﻤْﻟﺍ َﻦِﻣ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻥﻭُﺩ ْﻦِﻣ
َﻕْﺯِّﺮﻟﺍ ُﻂُﺴْﺒَﻳ َﻪَّﻠﻟﺍ َّﻥَﺄَﻜْﻳَﻭ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﻳ ِﺲْﻣﻷﺎِﺑ ُﻪَﻧﺎَﻜَﻣ ﺍْﻮَّﻨَﻤَﺗ
ﺎَﻨْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻣ ْﻥَﺃ ﻻْﻮَﻟ ُﺭِﺪْﻘَﻳَﻭ ِﻩِﺩﺎَﺒِﻋ ْﻦِﻣ ُﺀﺎَﺸَﻳ ْﻦَﻤِﻟ
َﻥﻭُﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ ُﺢِﻠْﻔُﻳ ﻻ ُﻪَّﻧَﺄَﻜْﻳَﻭ ﺎَﻨِﺑ َﻒَﺴَﺨَﻟ
Maka Kami benamkanlah Qarun beserta
rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya
suatu golongan pun yang menolongnya terhadap
azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang
(yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah
orang-orang yang kemarin mencita-citakan
kedudukan Qarun itu. berkata: “Aduhai. benarlah
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia
kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan
menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan
karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah
membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak
beruntung orang-orang yang mengingkari
(nikmat Allah)”. (QS Al-Qashshash ayat 81-82)
Sosok Qarun dan siapapun yang memiliki mental
dan sikap seperti dia, adalah sosok yang
mengingkari nikmat Allah. Mereka menyangka
bahwa kekayaan yang mereka kumpulkan
merupakan hasil prestasi dirinya dan tidak ada
kaitan dengan Allah yang Maha Menentukan
pembagian rezeki manusia. Mereka tidak pernah
besyukur kepada Allah akan rezeki yang diterima.
Dan mereka tidak pernah memohon rezeki
kepada Allah saat dirinya sedang mengalami
kesulitan rezeki. Mereka hanya mengandalkan
kemampuan dirinya sendiri dalam urusan materi.
Mereka inilah kaum yang berideologi
materialisme. Sungguh mateialisme tidak sama
dengan Islam. Bersyukurlah kita orang beriman
memiliki iman dan islam sebagai pegangan hidup
Published with Blogger-droid v2.0.4

Jumat, 20 April 2012

Di larang merokok(lucu)


Sepulang dari kantor, gue mampir ke suatu mall
buat beli obat di counter apotik kecil yang ada
disitu. Setelah nyerahin resepnya, gue beli rokok
ke counter disebelahnya dan kemudian gue
duduk santai buat nunggu panggilan untuk
pengambilan obatnya.
Untuk pengisi waktu, rokok yang baru gue beli
langsung aja keluarin dan gue nyalain sebatang.
Baru aja jalan tiga isepan, gue udah disamperin
sama Security (Satpam) yang ada dideket situ.
“Mangap Mas… eh, maksud saya maaf, rokoknya
tolong dimatiin deh. Diruangan ber-AC ini
dilarang merokok…”, tegor si mas Satpam.
Dengan sok merasa lebih pinter gue mencoba
untuk membela diri, sebenernya sih maksudnya
untuk menutupi malu karena ditegor Satpam
“Laah…, aneh banget peraturan di sini, gue kan
beli rokoknya juga disini, di counter yang disitu
tuh… kalau gitu disini ya jangan jualan rokok
dong…”, kata gue kesel tapi penuh percaya diri.
Tapi rupanya Mas Security nggak gentar kena
gertak, dengan kalemnya dia jawab: “Yaaahh
Mas.., asal anda tahu aja nih. Counter apotik itu
juga jual kondom, tapi nggak ada yang ngotot
pengen make disini…!!”
Published with Blogger-droid v2.0.4

Kamis, 19 April 2012

SYEKH RONGGO KUSUMO

K.Raden Ronggokusumo adalah
putera K.Agung Meruwut yang
juga masih keponakan KH.Ahmad
Mutamakkin yang merupakan
salah satu murid yang lain, ia
diperintahkan untuk membuka
tanah (menebang hutan)
disebelah barat Desa Kajen.
Perintah beliau dilaksanakan
penuh tanggungjawab sehingga
dalam waktu yang singkat
(konon dalam waktu satu malam)
tanah tersebut terlihat emplak-
emplak, sehingga oleh beliau
dinamai Desa NGEMPLAK. K.Raden
Ronggokusumo menetap di Desa
tersebut dan ia berjasa besar
dalam menyiarkan Agama
Islam.Setiap tanggal 10 Shafar,
Hari Ulang Tahun atau Haul yang
selalu dibanjiri oleh para zairin
dari berbagai daerah. Makam
beliau terletak di Desa Ngemplak,
Kecamatan
Margoyoso,Kabupaten Pati,.
Makam RONGGOKUSUMO
• Lokasi Di Desa Kajen Kec.
Margoyoso.
• Obyek wisata yang dikunjungi
Makam dan Masjid.
• Waktu kunjungan 60 menit
(09.15 s/d 10.15)
• R. Ronggokusumo merupakan
keturunan dari Sultan Demak,
sebelum Membuat Masjid dan
mengajarkan agama islam
beliau adalah kepala perampok
yang menjadi pengawasan dan
buronan dari Sunan Mangkurat.
Setelah Beliau bertemu dengan
K.H. Achmad Mutomakin
kemudian disuruh membuka
hutan dan diajari temtang
agama Islam sehingga tabiatnya
berubah menjadi baik.
Published with Blogger-droid v2.0.4

Kisah saridin

Mengungkap Sosok Saridin
Syeh Jangkung ketika Kecil Sangat Nakal
SIAPA sebenarnya Saridin itu? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, warga Pati dan sekitarnya
mungkin bisa membaca buku Babad Tanah Jawa
yang hidup sekitar awal abad ke-16. Sebab,
menurut cerita tutur tinular yang hingga
sekarang masih diyakini kebenarannya oleh
masyarakat setempat, dia disebut-sebut putra
salah seorang Wali Sanga, yaitu Sunan Muria dari
istri bernama Dewi Samaran.
Siapa wanita itu dan mengapa seorang bayi laki-
laki bernama Saridin harus dilarung ke kali?
Konon cerita tutur tinular itulah yang akhirnya
menjadi pakem dan diangkat dalam cerita
terpopuler grup ketoprak di Pati, Sri Kencono.
Cerita babad itu menyebutkan, bayi tersebut
memang bukan darah daging Sang Sunan
dengan istrinya, Dewi Samaran.
Terlepas sejauh mana kebenaran cerita itu,
dalam waktu perjalanan cukup panjang muncul
tokoh Branjung di Desa Miyono yang
menyelamatkan dan merawat bayi Saridin hingga
beranjak dewasa dan mengakuinya sebagai
saudaranya. Cerita pun merebak. Ketika masa
mudanya, Saridin memang suka hidup mblayang
(berpetualang) sampai bertemu dengan Syeh
Malaya yang dia akui sebagai guru sejati.
Syeh Malaya itu tak lain adalah Sunan Kalijaga.
Kembali ke Miyono, Saridin disebutkan telah
menikah dengan seorang wanita yang hingga
sekarang masyarakat lebih mengenal sebutan
”Mbokne (ibunya) Momok” dan dari hasil
perkawinan tersebut lahir seorang anak laki-laki
yang diberi nama Momok.
Sampai pada suatu ketika antara Saridin dan
Branjung harus bagi waris atas satu-satunya
pohon durian yang tumbuh dan sedang berbuah
lebat. Bagi waris tersebut menghasilkan
kesepakatan, Saridin berhak mendapatkan buah
durian yang jatuh pada malam hari, dan Branjung
dapat buah durian yang jatuh pada siang hari.
Kiasan
Semua itu jika dicermati hanyalah sebuah kiasan
karena cerita tutur tinular itu pun melebar pada
satu muara tentang ketidakjujuran Branjung
terhadap ibunya Momok. Sebab, pada suatu
malam Saridin memergoki sosok bayangan
seekor macan sedang makan durian yang jatuh.
Dengan sigap, sosok bayangan itu berhasil
dilumpuhkan menggunakan tombak. Akan tetapi,
setelah tubuh binatang buas itu tergolek dalam
keadaan tak bernyawa, berubah wujud menjadi
sosok tubuh seseorang yang tak lain adalah
Branjung.
Untuk menghindari cerita tutur tinular agar tidak
vulgar, yang disebut pohon durian satu batang
atau duren sauwit yang menjadi nama salah satu
desa di Kecamatan Kayen, Durensawit,
sebenarnya adalah ibunya Momok, tetapi oleh
Branjung justru dijahili.
Terbunuhnya Branjung membuat Saridin
berurusan dengan penguasa Kadipaten Pati.
Adipati Pati waktu itu adalah Wasis Joyo Kusumo
yang harus memberlakukan penegakan hukum
dengan keputusan menghukum Saridin karena
dinyatakan terbukti bersalah telah membunuh
Branjung.
Meskipun dalam pembelaan Saridin berulang kali
menegaskan, yang dibunuh bukan seorang
manusia tetapi seekor macan, fakta yang
terungkap membuktikan bahwa yang meninggal
adalah Branjung akibat ditombak Saridin.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,
dia harus menjalani hukuman yang telah
diputuskan oleh penguasa Pati.
Pulang
Sebagai murid Sunan Kalijaga yang tentu
mempunyai kelebihan dan didorong rasa tak
bersalah, kepada penguasa Pati dia menyatakan
telah punya istri dan anak. Karena itu, dia ingin
pulang untuk menengok mereka.
Ulahnya Menjengkelkan Sunan Kalijaga
ONTRAN - ontran Saridin di perguruan Kudus tidak
hanya menjengkelkan para santri yang merasa
diri senior, tetapi juga merepotkan Sunan Kudus.
Sebagai murid baru dalam bidang agama, orang
Miyono itu lebih pintar ketimbang para santri lain.
Belum lagi soal kemampuan dalam ilmu
kasepuhan. Hal itu membuat dia harus
menghadapi persoalan tersendiri di perguruan
tersebut. Dan itulah dia tunjukkan ketika beradu
argumentasi dengan sang guru soal air dan ikan.
Untuk menguji kewaskitaan Saridin, Sunan Kudus
bertanya, “Apakah setiap air pasti ada ikannya?”
Saridin dengan ringan menjawab, “Ada, Kanjeng
Sunan.”
Mendengar jawaban itu, sang guru memerintah
seorang murid memetik buah kelapa dari pohon
di halaman. Buah kelapa itu dipecah. Ternyata
kebenaran jawaban Saridin terbukti. Dalam buah
kelapa itu memang ada sejumlah ikan. Karena
itulah Sunan Kudus atau Djafar Sodiq sebagai
guru tersenyum simpul.
Akan tetapi murid lain menganggap Saridin
lancang dan pamer kepintaran. Karena itu lain
hari, ketika bertugas mengisi bak mandi dan
tempat wudu, para santri mengerjai dia. Para
santri mempergunakan semua ember untuk
mengambil air.
Saridin tidak enak hati. Karena ketika para santri
yang mendapat giliran mengisi bak air, termasuk
dia, sibuk bertugas, dia menganggur karena tak
kebagian ember. Dia meminjam ember kepada
seorang santri.
Namun apa jawab santri itu? ”Kalau mau bekerja,
itu kan ada keranjang.” Dasar Saridin. Keranjang
itu dia ambil untuk mengangkut air. Dalam waktu
sekejap bak mandi dan tempat wudu itu penuh
air. Santri lain pun hanya bengong.
Dalam WC
Cerita soal kejadian itu dalam sekejap sudah
diterima Sunan Kudus. Demi menjaga kewibawaan
dan keberlangsungan belajar para santri, sang
guru menganggap dia salah. Dia pun
sepantasnya dihukum.
Sunan Kudus pun meminta Saridin meninggalkan
perguruan Kudus dan tak boleh lagi
menginjakkan kaki di bumi Kudus. Vonis itu
membuat Saridin kembali berulah. Dia unjuk
kebolehan.
Tak tanggung-tanggung, dia masuk ke lubang WC
dan berdiam diri di atas tumpukan ninja. Pagi-pagi
ketika ada seorang wanita di lingkungan
perguruan buang hajat, Saridin berulah. Dia
memainkan bunga kantil, yang dia bawa masuk ke
lubang WC, ke bagian paling pribadi wanita itu.
Karena terkejut, perempuan itu menjerit. Jeritan
itu hingga menggegerkan perguruan. Setelah
sumber permasalahan dicari, ternyata itu ulah
Saridin. Begitu keluar dari lubang WC, dia
dikeroyok para santri yang tak menyukainya. Dia
berupaya menyelamatkan diri. Namun para santri
menguber ke mana pun dia bersembunyi.
Lagi-lagi dia menjadi buronan. Selagi berkeluh
kesah, menyesali diri, dia bertemu kembali
dengan sang guru sejati, Syekh Malaya.
Sang guru menyatakan Saridin terlalu jumawa
dan pamer kelebihan. Untuk menebus kesalahan
dan membersihkan diri dari sifat itu, dia harus
bertapa mengambang atau mengapung) di Laut
Jawa.
Padahal, dia tak bisa berenang. Syekh Malaya pun
berlaku bijak. Dua buah kelapa dia ikat sebagai
alat bantu untuk menopang tubuh Saridin agar
tak tenggelam.
Dalam cerita tutur-tinular disebutkan, setelah
berhari-hari bertapa di laut dan hanyut terbawa
ombak akhirnya dia terdampar di Palembang.
Cerita tidak berhenti di situ. Karena, dalam
petualangan berikutnya, Saridin disebut-sebut
sampai ke Timur Tengah.
Lulang Kebo Landoh Tak Tembus Senjata
ATAS jasanya menumpas agul-agul siluman Alas
Roban, Saridin mendapat hadiah dari penguasa
Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting
kakak perempuannya, Retno Jinoli.
Akan tetapi, wanita itu menyandang derita
sebagai bahu lawean. Maksudnya, lelaki yang
menjadikannya sebagai istri setelah
berhubungan badan pasti meninggal.
Dia harus berhadapan dengan siluman ular Alas
Roban yang merasuk ke dalam diri Retno Jinoli.
Wanita trah Keraton Mataram itu resmi menjadi
istri sah Saridin dan diboyong ke Miyono
berkumpul dengan ibunya, Momok.
Saridin membuka perguruan di Miyono yang
dalam waktu relatif singkat tersebar luas sampai
di Kudus dan sekitarnya. Kendati demikian, Saridin
bersama anak lelakinya, Momok, beserta murid-
muridnya, tetap bercocok tanam.
Sebagai tenaga bantu untuk membajak sawah,
Momok minta dibelikan seekor kerbau milik
seorang warga Dukuh Landoh. Meski kerbau itu
boleh dibilang tidak lagi muda umurnya,
tenaganya sangat diperlukan sehingga hampir
tak pernah berhenti dipekerjakan di sawah.
Mungkin karena terlalu diforsir tenaganya, suatu
hari kerbau itu jatuh tersungkur dan orang-
orang yang melihatnya menganggap hewan
piaraan itu sudah mati. Namun saat dirawat
Saridin, kerbau itu bugar kembali seperti sedia
kala.
Membagi
Dalam peristiwa tersebut, masalah bangkit dan
tegarnya kembali kerbau Landoh yang sudah mati
itu konon karena Saridin telah memberikan
sebagian umurnya kepada binatang tersebut.
Dengan demikian, bila suatu saat Saridin yang
bergelar Syeh Jangkung meninggal, kerbau itu
juga mati.
Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap
kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh
Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa,
kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh,
meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam
digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak
mempan.
Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian
aneh itu membuat Momok memberikan senjata
peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher
kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya
diberikan kepada para pelayat.
Kebiasan membagi-bagi daging kerbau kepada
para pelayat untuk daerah Pati selatan, termasuk
Kayen, dan sekitarnya hingga 1970 memang masih
terjadi. Lama-kelamaan kebiasaan keluarga
orang yang meninggal dengan menyembelih
kerbau hilang.
Published with Blogger-droid v2.0.4

GERBANG MAJAPAHIT DI KABUPATEN PATI

Meski pusat Kerajaan Majapahit terletak di
Mojokerto, Jawa Timur, namun Kabupaten Pati,
Jawa Tengah menyimpan satu objek wisata
andalan, yakni bekas pintu gerbang Kerajaan
Majapahit. Pemerintah daerah setempat berhasil
menjadikan peninggalan bersejarah di Desa
Muktiharjo, Kecamatan Margorejo atau empat
kilometer arah barat laut Kota Pati itu sebagai
salah objek wisata andalan untuk pemasukan
daerah belakangan ini.
Pintu gerbang Majapahit ini dikenal menyimpan
banyak legenda dan kontroversi.Menurut
legenda yang berkembang, pintu gerbang ini
awalnya diambil oleh Raden Bambang
Kebonyabrang sebagai syarat agar diakui
sebagai anak Sunan Muria. Sunan Muria memang
sempat meragukan Kebonyabrang yang tidak
disertai Ki Ageng Sebo Manggolo itu sebagai
putranya. Sebab, sejak kecil, Bambang diasuh
oleh kakeknya Ki Ageng Sebo Manggolo dan dididik
berbagai ilmu kesaktian. Sunan memerintahkan
Kebonyabrang mengambil pintu gerbang
Majapahit untuk menguji kesaktiannya. Pintu itu
akan digunakan sebagai gerbang bagi mesjid di
Gunung Muria.
Kebonyabrang berhasil mengambil pintu gerbang
namun hanya mampu membawanya hingga Desa
Muktiharjo. Kendati begitu, sejumlah kalangan
masih meragukan keaslian pintu gerbang
Majapahit ini. Sebab, sebagai kerajaan besar,
para penguasa kerajaan tidak akan mengijinkan
pintu gerbangnya dibawa. Kendati begitu,
kontroversi legenda keberadaan pintu gerbang
ini ternyata mampu memancing kunjungan
wisatawan ke lokasi tersebut.
sumber:
http://kabupatenpati.com/gerbang-majapahit-di-kabupaten-pati/
Published with Blogger-droid v2.0.4