Kamis, 12 April 2012

Kisah Nyata : Seorang Guru Yang Rela Jadi Pel4cur Demi Anak Didiknya

Tinggal di desa kecil di propinsi Gan Shu. Awalnya dia
bukan pelacur, setiap penduduk di desa tersebut tidak
mengerti kenapa seorang gadis secantik Xia yang
mempunyai paras tubuh yang indah dan rupa yang
menawan tidak melakukan pekerjaan seperti gadis-gadis
lainnya. Karena Xia menolak akan hal ini, ayah Xia selalu
menghukum dia. Suatu hari Xia mendengar bahwa
sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru
Xia langsung dengan sukarela menjadi seorang guru
dengan tanpa imbalan.
Pas hari pertama Xia masuk ke sekolah menjadi seorang
guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan
guru baru mereka Sejak saat itu Kelas selalu menjadi
penuh dengan canda tawa setiap murid. Kelas mereka
lebih layak untuk disebut sebagai tempat penampungan
daripada bangku bangku sekolah yang normal. Dalam
kondisi kelas yang sekarat ini, Xia mengajarkan beribu
ribu kata kata chinese dan pengetahuan laennya kepada
murid muridnya Suatu hari badai besar menghancurkan
kelas mereka semua murid tidak bisa melanjutkan
pendidikannya. Lalu kepala sekolah datang ke kota untuk
merundingkan hal tersebut dengan walikota yang
mengurus budget bagian pendidikan agar memberikan
sumbangan uang utk membetulkan sekolah mereka akan
kepala sekolah kembali dengan tangan kosong.
Kepala sekolah mengatakan kepada Xia bahwa walikota
akan memberikan uang kalo hanya Xia yang datang
kepada dia dan meminta uang kepadanya secara
personal, Xia yang tidak pernah keluar dari desa dan
meninggalkan rumah nya dan tidak pernah bertemu
dengan walikota sebelumnya, telah memutuskan untuk
berangkat dari rumah untuk mengunjungi sang walikota.
Sebelumnya Xia kwatir kalo kunjungan dia akan
mengacaukan suasana, akan tetapi dia tetep
memutuskan pergi demi murid murid nya.


Xia, Seorang Guru relawan berparas cantik ini mengalami
nasib tragis ketika harus menjadi pelacur demi mencari
uang untuk anak didiknya
Xia berjalan lebih dari 10 kilo untuk ke kantor sang
walikota setelah sampai, Xia duduk di depan kantor yang
bagus di ruangan sang walikota. Setiba nya di kantor,
sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan
sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan
mununjukan tangannya ke sebuah ruangan dan
mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut. Kalau
kamu mau, kamu ikuti aku” Xia melihat sebuah ruangan
dengan ranjang yang besar, ranjang tersebut lah yang
telah merenggut keperawanan Xia, Sang walikota telah
memperkosa Xia. Darah segar dari keperawannan nya
telah meninggalkan bekas dan jejak di sprei darah merah
tersebut menjadi lebih merah daripada warna bendera
national China. Xia tidak menangis sedikit pun yang ada
dipikirannya adalah berpuluh puluh mata murid
muridnya yang akan kecewa kalau tidak ada kelas buat
mereka belajar.
Setelah itu Xia bergegas balik ke rumah yang gelap dan
tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian
tersebut. Hari berikutnya, para penduduk membeli kayu
dan membetulkan kondisi kelas. Akan tetapi kala ada
hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di
gunakan. Xia mengatakan kepada murid muridnya
bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang
bagus buat mereka. Dalam kurang lebih 6 bulan, kepala
sekolah mengunjungi walikota 10 kali akan tetapi tetep
tidak diberikan dana yang dijanjikan kepada mereka.
Hanya walikota lah yang tau apa yang telah terjadi pada
Xia akan tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang itu.
Pada saat semester baru berganti, banyak murid yang
tidak bisa melanjutkan sekolah nya karena biaya dan
mereka harus membantu orangtuanya untuk bekerja.
Jumlah muridnya berkurang dan terus bekurang. Xia
sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Xia
mengetahui bahwa harapan murid muridnya telah hilang
bagaikan asap. Dia lalu kembali ke kamarnya. Xia
membuka bajunya, dan melihat tubuh telanjangnya di
depan cermin. Xia bersumpah akan memakai tubuhnya
yang indah untuk mewujudkan impian dari murid
muridnya untuk bisa kembali sekolah. Xia tahu semua
gadis dari desa bekerja sebagai pelacur di kota untuk
mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk
mendapatkan uang. Dia membersihkan dirinya dan
mengucapakan selamat tingal kepada kepala sekolah,
ayah dan sekolah.
Dia mengikat rambutnya dengan kuncir dua dan berjalan
menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayahnya
tersenyum bangga akan tetapi kepala sekolah menangis
sedih akan pilihan yang Xia lakukan. Di dalam glamor
kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia
menderita, dalam benak pikirannya, hanya ada sebuah
kelas yang hancur dan keprihatian dan kesedihan dan
kekecewaan expressi dari murid-muridnya. Xia masuk ke
buat salon, berbaring di ranjang yang kotor dan
menderita kerja kotor yang kedua di dunia percabulan.
Malam itu di dalam diary nya Xia menulis “Sang walikota
tidak bisa dibandingakan dengan tamu pertama nya
lebih parah dan lebih kejam akan tetapi paling tidak tamu
nya telah membayar dan memberi uang”
Xia mengirimkan semua uang penghasilannya kepada
kepala sekolah dengan mengirit irit biaya untuk hidup
nya dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke
kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang
tersebut dan mengikuti untuk menggunakan uang utk
membangun sekolah. Ketika setiap orang yang
menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah
hanya menjawab bahwa didapat dari donasi dari
organisasi social. Akan tetapi seiring waktu, penduduk
mengetahui bahwa sumber dana dari seorang mantan
guru yang bernama Xia. Banyak reporters yang ingin
meliputi berita ini akan tetapi ditolak oleh Xia dengan
alasan bahwa dia hanya seorang pelacur biasa.Dengan
uang tersebut, sekolah telah berubah drastis. Bulan
pertama, ada papan tulis baru. Bulan ke dua, ada bangku
kayu dan bangku. Bulan ketiga, setiap murid mempunyai
buku masing masing. Bulan ke empat, setiap murid
mempunyai dasi masing-masing. Bulan ke lima, tidak ada
seorang murid pun yang datang ke sekolah tanpa alas
kaki.
Bulan ke enam, Xia kembali mengunjungi sekolah Xia
disambut dengan gembira dan para murid menyapa
"Guru, kamu telah kembali guru, kamu cantik sekali”
Melihat kegembiraan dari para murid muridnya, Xia
tidak berkuasa untuk menangis. Tidak peduli berapa
banyak air mata yang di teteskan nya dan berapa
banyak derita, keluh kesan dan kisah sedih yang dia lalui
dalam 6 bulan, Xia merasakan semua kisah sedih dan
penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk
harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Xia lihat
saat itu. Setelah beberapa hari di rumah, Xia kembali ke
kota. Pada bulan ke tujuh, sekolah telah mempunyai
lapangan bermain yang baru. Pada bulan ke delapan,
sekolah membangun lapangan basket, pada bulan ke
sembilan, setiap murid mempunya pensil yang baru.
Pada bulan ke 10, sekolah mempunya bendera nasional
sendiri, setiap murid bisa menaikan bendera setiap hari
nya.
Hingga suatu waktu Xia dikenalkan kepada seorang
businessman. Sang pengusaha luar asing bersedia
membayar 3000 rmb buat satu malam. Dengan pikiran
yang lelah yang telah dia lalui beberapa tahun lalu, Xia
dengan lelah menuju hotel sang pengusaha asing. Dia
bersumpah bahwa itu adalah pekerjaan kotor yang
terakhir bagi dia dan setelah itu dia akan kembali ke desa
dan bersama sama murid muridnya di sekolah. Akan
tetapi nasib berkata lain sungguh tragis telah terjadi
malam itu dimana Xia bersumpah untuk terakhir kali
nya, Xia di diperkosa dan disiksa hingga terbunuh oleh 3
pengusaha asing tersebut. Xia baru saja bertambah umur
nya menjadi umur 21 tahun. Xia saat itu juga meninggal
tanpa mencapai keinginan yang terakhir, yaitu untuk
membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang
bisa digunakan oleh murid-murid.
Seorang pelacur telah meninggal dunia, keheningan yang
di penuhi air mata. Saat itu langit kota ShenZen masih
berwarna biru seperti lautan. Para murid-murid, guru-
guru dan beberapa ratus penduduk menghadiri acara
pemakaman Xia di desa kecil bernama “GanShu” Pada
saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih dari
Xia dalam foto itu Xia mengikat rambutnya dengan
senyuman bahagia. Kepala sekolah membuka diary Xia
dan membacakanya di depan para murid murid nya dan
Xia menulis “Sekali melacur, bisa membantu satu anak
yang tidak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan,
bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang
harapan. Bendera setengah tiang dikibarkan.
Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, 11 April 2012

HHO (Hydrogen Booster): Pengalih Air ke Gas Sebagai Alternatif Hemat BBM Buatan ITS

HHO (Hydrogen Booster):
Pengalih Air ke Gas Sebagai
Alternatif Hemat BBM
Buatan ITS
Prof. Dr. Ir. H. Djoko Sungkono M.Eng.Sc., Kepala
Laboratorium Teknik Pembakaran dan Bahan
Bakar di Jurusan Teknik Mesin FTI ITS,
mengembangkan “water to gas” (air dijadikan
gas) sebagai energi alternatif untuk menghemat
bahan bakar minyak (BBM).
“Saya sudah menelitinya sejak tahun 2007, bahkan
saya mulai memakainya sejak tahun 2009.
Alhamdulillah, alat HHO (Hydrogen Booster) yang
mengalihkan air ke gas itu mampu menghemat
solar atau bensin hingga 36 persen,” katanya,
Senin (9/4).
Menurut dia, alat HHO yang harganya Rp 800 ribu
dan belum diproduksi secara massal (masih
internal ITS), itu prinsipnya merupakan alat yang
memisahkan H2O menjadi H2 dan O secara
elektrolisa.
“H2 yang sudah dipisahkan dari O itulah yang akan
menghasilkan energi (gas) yang luar biasa bila
ada proses pembakaran di dekatnya,” paparnya.
Saat ini, ujar guru besar FTI ITS itu, “water to gas”
yang diriset itu sudah memasuki generasi ke-16,
namun riset akan terus dikembangkan, baik
konsep maupun alatnya.
“Alat HHO yang ada saat ini berupa tabung air
murni berukuran 15×20 centimeter. Satu cc air
murni akan habis untuk jarak 70 kilometer,
sehingga kalau satu liter air murni ya bisa untuk
jarak ribuan kilometer,” tuturnya.
Secara terpisah, Pembantu Rektor (PR) I ITS
Surabaya Prof Ir Herman Sasongko menegaskan
bahwa dirinya sebagai mantan Kepala Jurusan
Teknik Mesin FTI ITS sudah mencoba alat HHO
yang saat itu masih hemat 30 persen.
“Jadi, kalau pemerintah memang mau
mengembangkan alat itu untuk aplikasi di
masyarakat melalui tahapan produksi, saya kira
perlu riset lanjutan, bahkan kalau sudah dipakai
masyarakat pun masih perlu riset terus menerus
dan ITS siap untuk itu,” ucapnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) Prof Dr Widjajono
Partowidagdo dalam “Forum Group Discussion”
dengan Rektor ITS Prof Ir Triyogi Yuwono DEA,
alumni dan BEM ITS di Rektorat ITS Surabaya (5/4)
juga mengaku pernah memakai alat itu.
“Saya pernah memakai alat ‘water to gas’ itu dari
alumni ITS saat ada acara di Unas (Universitas
Nasional, Jakarta), ternyata hemat 30 persen
lebih dan kecepatan kendaraan juga bagus.
Karena itu, kalau harga BBM naik 30 persen ya
tentu tidak akan terasa, karena impas,” tukasnya.
Sumber:
http://indonesiaproud.wordpress.com/2012/04/10/hho-hydrogen-booster-pengalih-air-ke-gas-sebagai-alternatif-hemat-bbm-buatan-its/
Published with Blogger-droid v2.0.4

Selasa, 10 April 2012

RENUNGAN


Wahai sahabat�.Tanpa disadari waktu terus
berjalan dengan cepat, yang tidak bisa kita
kembali lagi untuk mengulangnya.� Apakah semua
amalan kita sudah cukup untuk bekal kita nanti?
berhati-hatilah terhadap kegelinciran yang tidak
kita sadari. Bawalah bekal dari dunia sebelum
mati. Marilah kita koreksi kembali diri kita masing-
masing (instropeksi), dan takutlah kepada Allah
ketika khalwat (sendiri). Berfikirlah,
renungkanlah, berlombalah dan perbanyaklah
amal-amal dalam usia yang pendek ini:o:p>
Sebelum ada panggilan perpisahan
Sebelum mati datang tiba-tiba
Sebelum terhalang antara diri dan antara
kesukaan dalam hidup ini
Sebelum berangan-angan untuk kembali ke
dunia, dimana hal itu tidak mungkin terjadi
Wahai Sahabat�Persiapkanlah bekal untuk
perjalanan kita yang hampir sampai waktunya.
Perjalanan yang tidak mungkin kembali.
Bersungguh-sungguhlah dan bersiap-siaplah
untuk perjalanan tersebut. Perbanyaklah amal-
amal shalih, sebab tak lama lagi dunia ini akan
berpisah dengan kita dan akhirat segera
menjelang. Bekal untuk perpisahan ke rumah
abadi harus disediakan. Bangkit dan tanamkan
ketaqwaan dalam perkataan dan perbuatan.
Jangan terlalu berbangga dengan kehidupan
dunia. Jangan memperbanyak hal-hal yang
membawa dosa. Hati-hatilah dan jangan tertipu
oleh angan-angan yang menyesatkan.
Dibelakang kita adalah kuburan-kuburan yang
mengerikan, mencekam dan penuh ancaman
yang menyulitkan. Nafas terasa sempit dan akan
melihat hal-hal yang belum pernah kita perkirakan
sebelumnya. Kesulitan besar akan dialami
ditempat tersebut. Disanalah hati terasa copot,
dan jiwa akan teringat waktu-waktu yang
ditinggalkan tanpa amal. Serta berangan-angan
sekiranya bisa menambah kebaikan, pasti akan
ringanlah hukuman yang ditimpakan. Namun itu
tidak mungkin. Allah berfirman (QS Yunus : 30) : �
Ditempat itu (padang mahsyar) tiap-tiap diri
merasakan pembalasan dari apa yang telah
diperbuatnya dulu, mereka dikembalikan kepada
Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan
lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-
adakan.�
Wahai Sahabat, Kecemasan dan penyesalan
terhadap dunia yang berakhir dengan
kemusnahan dan kerusakan; kecemasan dan
penyesalan terhadap umur panjang namun
membosankan, semua itu tidak ada artinya.Waktu
terbuang percuma diatas permadani permainan
dan kealpaan, siang malam dihabiskan untuk
kenikmatan dan kesenangan fana serta syahwat,
atau membaca bacaan yang merangsang bahkan
mendorong pada perbuatan dosa dan kesalahan
besar.
Dengan penyesalan yang tak terhingga itu, kita
pergi dan tak akan kembali. Penyesalan atas dosa
yang pasti dihisab (dihitung), baik yang besar
maupun yang kecil, penyesalan atas kalbu yang
alpa dalam kegelapan, penyesalan atas lidah yang
tak henti-hentinya berdusta, bergunjing,
memfitnah, dan lain sebagainya; penyesalan atas
lidah yang tak pernah berdzikir kepada Allah
Pencipta langit, semua itu tinggal penyesalan dan
penyesalan. Alangkah ruginya orang yang
menghabiskan umurnya dalam kemungkaran dan
dosa besar, orang yang dagangannya maksiat
dan dosa-dosa.
Wahai Sahabat�Janganlah berbicara tentang
dunia seolah seperti layaknya orang zahidin
(orang yang tidak tamak kepada dunia), namun
perbuatan kita di dunia tak ubahnya seperti
orang-orang yang memuja dunia. Kita menyukai
orang shalih tapi tidak beramal seperti mereka.
Kita benci kepada orang yang berbuat
kemungkaran, sementara kita sendiri justru
seperti mereka.Kita takut mati karena merasa
banyak dosanya, hingga sama sekali tidak ingin
mati. Kita tidak yakin pada rezeki yang diberikan
dan tidak melakukan apa yang diwajibkan. Kita
tenang-tenang saja mengerjakan dosa saat
memperoleh kenikmatan, bahkan meminta
tambahan kenikmatan lagi tanpa bersyukur.
Ya Allah anugrahkanlah kepada kami perbaikan
atas kekurangan-kekurangan yang ada pada
kami. Jadikanlah takwa sebagai bekal kami. Dalam
agama-Mu kami berjihad. Kepada-Mu-lah kami
bertawakal dan bersandar, dengan rahmat-Mu
Allah Yang Maha Pengasih.
Wahai para hamba Allah, Bagaimanakah bila ruh
telah sampai ditenggorokan, dan betis-betis
saling bertindih, suami istri saling berpisah
dengan anak-anak dan teman-temannya?
Bagaimanakah bila sudah diusung diatas pundak-
pundak, dan kemudian dibaringkan dengan
berbantal tanah dalam kegelapan kubur, serta
sempitnya lahat? Bagaimanakah bila datang
kepada anda malaikat Munkar dan Nakir yang
mendudukkan anda lalu bertanya? Bagaimanakah
bila anda keluar dari kubur pada hari
kebangkitan nanti? Bagaimanakah bila rapor
anda berterbangan, sedang shirat(titian) telah
dipasang, timbangan telah disiapkan. Allah,
Allah�Ingatlah wahai hamba Allah, inilah tempat
kembali. Inilah akhirnya.
Wahai Sahabat, Pintu taubat masih terbuka dan
Allah masih membebaskan hamba-Nya yang
mukmin. Kembalilah dan datanglah kepada-Nya
dengan tunduk. Luangkanlah waktu untuk
menghadapkan wajah kepada-Nya sebagai ganti
atas sibuknya urusan dunia yang fana ini. Semoga
Allah memperbaiki keadaan kita, dan
mengampuni dosa-dosa kita.
Sumber: http://m.pustaka.abatasa.com/pustaka/detail/muamalah/allsub/455/renungan.html
Published with Blogger-droid v2.0.4

Senin, 09 April 2012

POLITIK

Seorang anak bertanya pada ayahnya, “Ayah,
apa itu politik?”.
Sang ayah memberi analogi, “Jadi begini, ayah
adalah pencari nafkah di rumah ini. Sebut saja
ayah adalah Kapitalisme. Ibumu adalah orang
yang mengurus keuangan rumah tangga, maka
sebut saja dia Pemerintah. Ayah dan ibu
memberikan apa yang kamu butuhkan, jadi kamu
adalah Masyarakat. Mbak pembantu di rumah ini
disebut Kelas Pekerja karena dia langsung turun
ke masyarakat membantu mereka. Dan adikmu
yang masih bayi adalah Masa Depan. Begitulah
politik kira-kira.”
Suatu malam, adik bayinya menangis. Si anak
terbangun melihat adiknya yang menangis.
Ternyata popoknya basah. Lalu dia ke kamar
orang tuanya dan menemukan ibunya yang
tertidur pulas. Karena tidak mau
membangunkannya, dia pergi ke kamar
pembantunya. Setelah dilihat, kamar
pembantunya terkunci. Karena penasaran, si
anak mengintip dari lubang kunci. Dia melihat
ayahnya sedang tidur bersama pembantunya.
Esok paginya, si anak menghampiri ayahnya.
“Ayah, aku sekarang mengerti apa itu politik!”
Ayahnya penasaran, “Bagaimana politik versi
kamu?” Si anak menjawab lancar, “Jadi saat
Kapitalisme menindih Kelas Pekerja, Pemerintah
hanya tertidur pulas. Masyarakat merasa tidak
diacuhkan, dan Masa Depan benar-benar
bersedih!”
Published with Blogger-droid v2.0.4

Etika pergaulan menurut islam


“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-
bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.
Al Hujurat [49]:13)
Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk
bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul
dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang
sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib
bagi setiap manusia yang “masih hidup” di dunia
ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau
bahkan sangat langka, jika ada orang yang
mampu hidup sendiri. Karena memang begitulah
fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran
orang lain dalam kehidupannya.
Tidak ada mahluk yang sama seratus persen di
dunia ini. Semuanya diciptakan Allah berbeda-
beda. Meski ada persamaan, tapi tetap semuanya
berbeda. Begitu halnya dengan manusia. Lima
milyar lebih manusia di dunia ini memiliki ciri, sifat,
karakter, dan bentuk khas. Karena perbedaan
itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam
bergaul sesama manusia akan terjadi banyak
perbedaan sifat, karakter, maupun tingkah laku.
Allah mencipatakan kita dengan segala
perbedaannya sebagai wujud keagungan dan
kekuasaan-Nya.
Maka dari itu, janganlah perbedaan menjadi
penghalang kita untuk bergaul atau bersosialisasi
dengan lingkungan sekitar kita. Anggaplah itu
merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat
menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap
yang wajar dan adil. Karena bisa jadi sesuatu
yang tadinya kecil, tetapi karena salah menyikapi,
akan menjadi hal yang besar. Itulah perbedaan.
Tak ada yang dapat membedakan kita dengan
orang lain, kecuali karena ketakwaannya kepada
Allah SWT (QS. Al_Hujurat [49]:13)
Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan
kebiasaan menjadi satu paket ketika Allah
menciptakan manusia, sehingga manusia dapat
saling mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi . tak
ada yang dapat membedakan kecuali
ketakwaannya.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita
tumbuh kembangkan agar pergaulan kita dengan
sesama muslim menjadi sesuatu yang indah
sehingga mewujudkan ukhuwah islamiyah. Tiga
kunci utama untuk mewujudkannya yaitu ta’aruf,
tafahum, dan ta’awun. Inilah tiga kunci utama yang
harus kita lakukan dalam pergaulan.
Ta’aruf. Apa jadinya ketika seseorang tidak
mengenal orang lain? Mungkinkah mereka akan
saling menyapa? Mungkinkah mereka akan saling
menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau
mungkinkah ukhuwah islamiyah akan dapat
terwujud?
Begitulah, ternyata ta’aruf atau saling mengenal
menjadi suatu yang wajib ketika kita akan
melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan
orang lain. Dengan ta’aruf kita dapat
membedakan sifat, kesukuan, agama,
kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada
diri seseorang.
Tafahum. Memahami, merupakan langkah kedua
yang harus kita lakukan ketika kita bergaul
dengan orang lain. Setelah kita mengenal
seseorang pastikan kita tahu juga semua yang ia
sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting
dalam pergaulan. Dengan memahami kita dapat
memilah dan memilih siapa yang harus menjadi
teman bergaul kita dan siapa yang harus kita
jauhi, karena mungkin sifatnya jahat. Sebab,
agama kita akan sangat ditentukan oleh agama
teman dekat kita. Masih ingat ,”Bergaul dengan
orang shalih ibarat bergaul dengan penjual
minyak wangi, yang selalu memberi aroma yang
harum setiap kita bersama dengannya. Sedang
bergaul dengan yang jahat ibarat bergaul
dengan tukang pandai besi yang akan
memberikan bau asap besi ketika kita
bersamanya.”
Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama
dengan orang-orang shalih akan banyak sedikit
membawa kita menuju kepada kesalihan. Dan
begitu juga sebaliknya, ketika kita bergaul
dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan
membawa kepada keburukan perilaku ( akhlakul
majmumah ).
Ta’awun. Setelah mengenal dan memahami,
rasanya ada yang kurang jika belum tumbuh sikap
ta’awun (saling menolong). Karena inilah
sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa
cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan
Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya
untuk saling menolong dalam kebaikan dan
takwa. Rasullulloh SAW telah mengatakan bahwa
bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli
dengan urusan umat Islam yang lain.
Ta’aruf, tafahum , dan ta’awun telah menjadi
bagian penting yang harus kita lakukan. Tapi,
semua itu tidak akan ada artinya jika dasarnya
bukan ikhlas karena Allah. Ikhlas harus menjadi
sesuatu yang utama, termasuk ketika kita
mengenal, memahami, dan saling menolong.
Selain itu, tumbuhkan rasa cinta dan benci karena
Allah. Karena cinta dan benci karena Allah akan
mendatangkan keridhaan Allah dan seluruh
makhluknya. Wallahu a’lam bishshawab.
Published with Blogger-droid v2.0.4